Arahan Adaptasi Kawasan Rawan Tanah Longsor dalam Mengurangi Kerentanan Masyarakat di KSN Merapi Kabupaten Sleman

Adjie Pamungkas, Novia Destriani

Abstract


Meningkatnya potensi bencana tanah longsor dalam Kawasan Strategis Nasional (KSN) Gunung Merapi Kabupaten Sleman diakibatkan oleh hasil erupsi Gunung Merapi, curah hujan, dan erosi sungai. longsor ini menyebabkan kerugian material (angka??), korban jiwa (angka???), kerusakan infrastruktur (angka??), sektor sosial(angka??), ekonomi (angka??)dan mengakibatkan penurunan daya dukung lahan produktif termasuk beberapa kawasan permukiman, pariwisata, budidaya dan lindung yang ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional. Untuk meminimasi dampak longsor tersebut, stakeholders memiliki tindakan adaptasi berupa bla… bla… . Adaptasi saat ini dirasakan kurang efektif mengingat kejadian longsor dan dampaknya tetap terjadi. Oleh karenanya, penelitian ini berupaya merumuskan arahan adaptasi yang efektif dalam meminimasi dampak longsor di KSN Gunung Merapi Untuk merumuskan adaptasi yang efektif, penelitian ini memiliki 3 tahapan utama. Pertama, menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan melalui analisa AHP (analytical hierarchical process ?). kedua, menentukan zona kerentanan melalui weighted overlay berdasarkan bobot faktor dari AHP. Ketiga, merumuskan pola adaptasi pada daerah yang memiliki kerentanan yang tinggi melalui analisa ……? Berdasarkan hasil analisa, Kecamatan Kalasan adalah kecamatan berzona kerentanan tertinggi. Faktor dominan kerentanan di kecamatan tersebut adalah supply kebutuhan air berdasarkan jarak potensi longsor yang dekat dengan sungai, tingkat kepadatan bangunan, persentase laju pertumbuhan penduduk, tingginya jumlah usia tua-balita, dan jenis tumbuhan yang menutupi lereng. Berdasarkan faktor dominan tersebut, rumusan adaptasi untuk Kecamatan Kalasan terbagi dalam 4 fase disaster risk management. Fase mitigasi dilakukan pembuatan saluran drainase pada tebing sungai yang rawan tanah longsor seperti Cangkringan dan Pakem yang melalui Kecamatan Kalasan. Fase kesiapsiagaan difokuskan dengan melakukan antisipasi kondisi cuaca diwilayah Kecamatan Kalasan dan sekitarnya pada akhir musim kemarau dan awal musim penghujan secara realtime berbasis seluler yang dipancarkan ke BMKG setempat. Fase respon difokuskan pada penyediaan peralatan medis dan bantuan relawan sebagai tanggap darurat pertama kepada masyarakat di sekitaran Kecamatan Kalasan dan wilayah lainnya. Dan, fase pemulihan dilakukan dengan mengembalikan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat di Kecamatan Kalasan dan sekitarnya yang terkena tanah longsor.

Kata Kunci: adaptasi, bencana longsor, kerentanan


Full Text:

PDF

References


Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Sleman. 2011. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman 2011-2031. Bappekab Slema : DIY

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Pemetaan Resiko Bencana Tanah Longsor Kabupaten Sleman 2010. DESDM: Yogyakarta.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman. 2011-2012. Laporan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana. Bappekab Sleman: DIY

Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana di Indonesia dan Mitigasinya (2007).

Brikmann, Jorn. Measuring Vulnerability to Natural Hazards: Towards Disasters Resilient Societies. United Nation University Press. 2006

Saaty, T. L. (1993), Decision Making for Leader: The Analytical Hierarchy Process for Decisions in Complex World. Pittburgh : University of Pittsburgh

IPCC. National Disaster Management Guidelines: Management of Landslides and snow avalnches. Natural Disaster Management. 2001

Marskrey, K 1998. Environmental Hazards: Assesing Risk and Reducing Disaster, Routledge, London


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
jurnal penataan ruang by LPPM ITS is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Based on a work at http://iptek.its.ac.id/index.php/jpr/index.