IDENTIFIKASI KANDUNGAN BORAKS DAN FORMALIN PADA MAKANAN DENGAN MENGGUNAKAN SCIENTIFIC VS SIMPLE METHODS

Siti Nurkhamidah

Abstract


Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan bahan makanan yang tidak mudah rusak, boraks banyak sekali digunakan dalam industri makanan, seperti: dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, tahu, bakso, sosis, dan lain-lain. Selain boraks, formalin juga banyak digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Padahal zat-zat kimia tersebut merupakan bahan beracun dan bahan berbahaya bagi manusia sehingga sangat dilarang digunakan sebagai bahan baku makanan. Oleh karena itu, diperlukan metode identifikasi yang sederhana (simple method) untuk kedua bahan berbahaya tersebut dalam makanan. Sehingga, dapat dilakukan oleh konsumen terutama para ibu rumah tangga dengan mudah. Untuk menguji validitas dari simple method tersebut, maka hasil ujinya perlu dibandingkan dengan scientific method. Hasil uji kandungan boraks pada makanan dengan menggunakan simple method telah dilakukan di Laboratorium dan hasil uji menunjukaan bahwa dari 28 sampel yang di uji, ada dua sample yang positif mengandung boraks. Hasil dari metode nyala api yang merupakan scientific method untuk uji kandungan boraks menunjukkan hasil yang sama dengan hasil uji menggunakan simple method. Sedangkan pada uji formalin, baik menggunakan scientific method menunjukkan hasil bahwa terdapat tujuh sampel yang positif mengandung formalin dari 28 sampel yang diuji dan sebagian besar sampel tersebut merupakan ikan asin. Hasil dari uji tersebut telah disosialisasikan kepada masyarakat sekitar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yaitu ibu-ibu PKK di Perumahan Sukolilo Dian Regency RT 8 dan 9, RW 2 Kelurahan Keputih Kecamatan Sukolilo Surabaya pada 26 Juni 2016 dan dilakukan sosialisasi kedua pada tanggal 30 Juli 2016 untuk melihat tingkat keberhasilan dan keberlanjutan dari sosialisasi yang pertama.


Full Text:

Untitled

References


Anonimous. 2006. Formalin bukan formalitas. Buletin CP. Edisi Januari 2006). Hal 1-3.

Anonimous, 2012. Pengertian bakso dan cara membuat bakso, (online), (http://www.geoklik.com/pengertian-bakso-dan-cara-membuat-bakso/290/.

Didinkaem, 2007. Bahan beracun lain dalam makanan. Pikiran Rakyat, 26 Januari

Gazette, P. 2003. Thailand crackdown on hazardous food additives, (online), http://www.thaivisa.com/index.php? 514 &backPID=10&tt_news=291.

Groliman, A. 1962. Pharmakology and theyrapetics, Edisi ke- 5, Lea dan Febiger, Philadelphia.

Keju, 2012. Isi kandungan gizi bakso – komposisi bakso. (online).

(http://keju.blogspot.com/1970/01/isi-kandungan-gizi-bakso-komposisi-nutrisi-bahanmakanan.html.

Keju, 2012. Isi kandungan gizi siomay – komposisi bakso. (online).

(http://keju.blogspot.com/1970/01/isi-kandungan-gizi-bakso-komposisi-nutrisi-bahanmakanan.html.

Khamid. 2006. Pengawetan pangan/makanan dengan teknik alami. (online),

(http://www.himasaifi.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_12 html,

Lee, L.P., Sherins, R.J. and Dixon, R.L. 1978. Edevence for induction of germinal aplasia in male rats by environmental exposure to boron. Toxicol. Aplly. Phamacol.

Moffat, A. C. (1986). Clarke’s isolation and identification of drugs. Edisi 2

London. The Pharmaceutical Press. Hal. 420-421, 457-458, 849, 932-933.Ngadiwaluyo dan Suharjito, 2003

Rahayu, W.P. 2000. Aktivitas antimikroba bumbu masakan tradisional hasil olahan industri terhadap bakteri patogen dan perusak. Buletin Teknologi Industri Pangan 11(2): 42-47.

Vepriati, 2007. Dasar teknologi pembuatan dendeng dan bakso. Universitas Sebelasmaret. Surakarta.

Wikipedia, 2012. Siomay, (online). ( http://id.wikipedia.org/wiki/Siomai.

Winarno FG, Rahayu TS. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan; 1994.

Winarno dan Rahayu, 2004. Formalin,

(online)(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22567/4/Chapter%20II. Pdf.

Winarno, F. G. 1997. Keamanan pangan, Naskah Akademis Institut Pertanian Bogor. Bogor

Yellashakti, 2008. Uji nyala sampel boraks, (online).(yellashakti.wordpress.com/2008/12/17/uji-nyala-sampel-boraks/.

Yuliarti, N. (2007). Awas! Bahaya di balik lezatnya makanan. Yogyakarta




DOI: http://dx.doi.org/10.12962/j26139960.v1i1.2985

Refbacks

  • There are currently no refbacks.